Serangan AS dan Israel terhadap Iran, serta respons Teheran, telah mendorong harga Brent ke level tertinggi sejak pecahnya konflik Rusia-Ukraina. Bagaimana situasi di Timur Tengah akan berkembang? Mari kita bahas topik ini serta menyusun rencana trading.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin-Poin Penting
- Brent mencatat kenaikan tercepat sejak 2022.
- Harga minyak akan bergantung pada lamanya konflik berlangsung.
- Sejarah tidak memberikan rujukan jawaban yang definitif.
- Posisi buy pada Brent yang dibuka di $71.5 sebaiknya tetap dipertahankan.
Perkiraan Fundamental Mingguan untuk Minyak
Iran berharap tidak akan terjadi konflik militer. Amerika Serikat disebut-sebut menilai hal tersebut tidak menguntungkan karena lonjakan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak. Selain itu, taktik Donald Trump yang kerap melontarkan ancaman lalu menarik diri sudah dikenal luas. Namun kali ini, Amerika Serikat mengambil langkah-langkah ekstrem.
Pengeboman Iran oleh AS dan Israel, serta respons Iran berupa peluncuran rudal ke berbagai wilayah, membuat harga minyak mentah Brent melonjak dengan kecepatan tercepat dalam empat tahun. Peristiwa serupa terakhir terjadi ketika pasukan Rusia memasuki Ukraina, dan pasar khawatir akan gangguan pasokan akibat sanksi Barat.
Harga Minyak Mentah Brent
Sumber: Bloomberg.
Ketika guncangan geopolitik sebesar ini terjadi, dua pertanyaan utama muncul: Berapa lama konflik akan berlangsung? Dan bagaimana dampaknya terhadap pasokan minyak?
Sejarah tidak memberikan jawaban yang jelas. Perang Irak tahun 2003 merupakan faktor pendorong terbesar bagi harga Brent. Sebaliknya, Perang Yom Kippur tahun 1973 menyebabkan harganya anjlok.
Reaksi Minyak Mentah terhadap Gejolak Geopolitik
Sumber: Bloomberg.
Kemungkinan besar, Iran salah menilai kekhawatiran Donald Trump terhadap inflasi tinggi. Menurut perkiraan Evercore, kenaikan harga Brent menjadi $80–$85 per barel akan memberikan dampak negatif yang dapat diabaikan terhadap ekonomi global dan dampak yang bahkan lebih kecil terhadap ekonomi AS. Namun, lonjakan harga minyak mentah Brent menjadi $100–$120 per barel akan menjadi cerita yang berbeda. Dalam skenario seperti itu, ekspektasi inflasi akan meningkat.
Goldman Sachs memperkirakan premi risiko sebesar $18 per barel, yang setara dengan 2.3 juta barel per hari pasokan minyak global, tidak banyak dibandingkan dengan penutupan Selat Hormuz. Iran belum mengeluarkan pernyataan apapun mengenai masalah ini, tetapi para pemasok sudah bertindak dengan lebih hati-hati. Semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak masalah yang akan terjadi dengan pasokan. Citi memperkirakan harga Brent akan naik menjadi $120 per barel dalam skenario kejutan, sementara ING memperkirakan angka tersebut sebesar $140.
Upaya OPEC+ untuk menstabilkan situasi dengan meningkatkan produksi sebesar 206,000 barel sejak April, yang merupakan 1.5 kali lebih banyak daripada bulan Desember, sebenarnya belum memberikan dampak signifikan pada pasar minyak.
Donald Trump berbicara tentang dua hingga tiga minggu, yang akan berakhir dengan penyerahan diri Iran atau pergantian kepemimpinan ke pihak yang bersahabat dengan AS. Namun, pemimpin AS tersebut berisiko mengulangi kesalahan Presiden George W. Bush yang mengakhiri Perang Teluk lebih cepat dari yang diperlukan, yang kemudian memicu kebutuhan intervensi lanjutan dan dampak jangka panjang yang serius.
Rencana Trading Mingguan untuk Brent
Peluang Brent kembali ke $60 per barel dalam waktu dekat sangat kecil. Sebaliknya, semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi peluang kenaikan berkelanjutan ke $84.5 dan $90. Akibatnya, posisi buy yang dibentuk di atas $71.5 per barel dapat dipertahankan.
Prakiraan ini didasarkan pada analisis faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data pasar historis juga dipertimbangkan.
Grafik harga UKBRENT dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.























