Meskipun Jepang berhasil menghentikan kenaikan USD/JPY pada Januari, situasinya berubah pada Maret. Dolar AS menguat dengan cepat akibat konflik di Timur Tengah. Mari kita bahas topik ini serta menyusun rencana trading.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin-Poin Penting
- Tokyo mengimpor hingga 90% kebutuhan sumber daya energi dari Timur Tengah.
- Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi di Jepang.
- Perpindahan dana antar pasar saham belum memberikan dukungan bagi yen.
- Posisi buy USD/JPY dapat dibuka setelah harga menembus level 157.8 dan 158.3.
Prakiraan Fundamental Mingguan untuk Yen
Konflik di Timur Tengah berisiko mengganggu secara signifikan agenda pemerintah Jepang dalam menstimulasi ekonomi. Seiring melambatnya inflasi pada Januari–Februari, Sanae Takaichi melontarkan kritik terhadap rencana Bank of Japan untuk melanjutkan kenaikan suku bunga dan mulai mengkaji ekspansi fiskal. Namun, kenaikan tajam harga minyak mendorong USD/JPY lebih tinggi dan berisiko membuat janji perdana menteri tidak terwujud.
Perubahan Inflasi Tokyo
Sumber: Bloomberg.
Jepang adalah importir bersih produk energi, sekitar 90% diantaranya berasal dari Timur Tengah. Pada saat yang sama, penghentian produksi gas Qatar akibat serangan pesawat tak berawak Iran terhadap fasilitas LNG telah menyebabkan kenaikan harga yang signifikan. Meskipun Tokyo hanya membeli 4% LNG-nya dari Doha, tanpa pemasok ini, persaingan untuk gas alam dari produsen lain akan semakin intensif. Harga dan biaya impor akan naik, yang pada akhirnya akan mempercepat inflasi di Jepang.
Investor melihat negara-negara pengekspor komoditas energi bersih sebagai penerima manfaat dari konflik bersenjata di Timur Tengah. Yang pertama dan terpenting adalah AS, yang pasar sahamnya tertinggal dari pasar global sejak awal tahun. Indeks S&P 500 tertinggal 9 poin persentase dari MSCI global di luar Amerika Serikat. Pada tahun 2025, selisihnya mencapai 12 poin persentase, yang merupakan perbedaan terbesar sejak tahun 1993.
S&P 500 dan Pasar Saham Global
Sumber: Bloomberg.
Jika AS diuntungkan dari meningkatnya ketegangan geopolitik, sementara Eropa dan Jepang dirugikan, maka modal akan mengalir dari Timur ke Barat. Akibatnya, tidak hanya indeks Nikkei 225 dan TOPIX yang akan tertekan, tetapi yen Jepang juga akan terpengaruh.
Satsuki Katayama menyatakan pemerintah memantau pasar Forex dengan urgensi tinggi. Menteri keuangan menegaskan Jepang siap melakukan intervensi mata uang, termasuk melalui kerja sama dengan negara lain, yang mengisyaratkan Amerika Serikat. Isu aksi bersama AS–Jepang sempat menahan kenaikan USD/JPY pada Januari, ketika dolar masih melemah. Namun, pada awal musim semi, dolar AS kembali menguat. Pernyataan verbal diperkirakan tidak cukup untuk membalikkan arah tren.
Pemerintah hanya bisa berharap bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah tidak akan berlangsung lama. Menurut Kementerian Perdagangan, Jepang memiliki cadangan LNG yang cukup untuk bertahan sekitar tiga minggu. Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa perang dengan Iran akan berlangsung selama 2-3 minggu. Jika berlangsung lebih lama, masalah Tokyo akan semakin membesar.
Rencana Trading Mingguan USDJPY
Dalam kondisi seperti ini, kenaikan USD/JPY kemungkinan akan berlanjut. Posisi buy yang dibuka di 153.95 dan ditingkatkan di 156.3 dapat dipertahankan selama harga minyak terus mengalami kenaikan. Jika pair ini menembus 157.8 dan 158.3, tambahan posisi buy dapat dipertimbangkan.
Prakiraan ini didasarkan pada analisis faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data pasar historis juga dipertimbangkan.
Grafik harga USDJPY dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.


















































