Orang terkaya di Indonesia mencerminkan kekuatan ekonomi negara terbesar di Asia Tenggara. Pertumbuhan GDP yang pesat, ekspansi infrastruktur digital, pengembangan pusat data, serta investasi asing yang agresif sedang mengubah Jakarta menjadi salah satu pusat keuangan utama di kawasan. Sebagian besar kekayaan ini secara tradisional berasal dari pertambangan batu bara dan nikel, perbankan, serta sektor jual beli ke konsumen.

Banyak orang terkaya di Indonesia merupakan pengusaha yang merintis sendiri usahanya dan telah membangun kerajaan bisnis yang terdiversifikasi di pasar yang sangat kompetitif. Forbes secara rutin memperbarui perkiraan nilai kekayaan bersih mereka, memberikan gambaran yang jelas tentang perubahan kekayaan dan siapa saja yang saat ini berada di peringkat orang terkaya di negara tersebut.

Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:


Poin-Poin Penting

  • Hartono Bersaudara, Robert Budi dan Michael, sebagai pewaris kerajaan tembakau Djarum, menduduki posisi teratas dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

  • Sektor perbankan menjadi fondasi bagi banyak kekayaan terbesar di negara ini. Kepemilikan saham mayoritas di Bank Central Asia (BCA), salah satu bank dengan kapitalisasi terbesar di Indonesia, menyumbang porsi signifikan terhadap kekayaan para miliarder Indonesia.

  • Sektor komoditas tetap menjadi tulang punggung kekayaan bernilai miliaran dolar. Batu bara, nikel, minyak kelapa sawit, dan sumber daya alam lainnya yang telah lama menjadi fondasi kekayaan di Indonesia.

  • Kisah dari nol hingga menjadi kaya merupakan hal yang umum di Indonesia. Banyak orang terkaya di negara ini adalah pengusaha mandiri yang memulai dari skala kecil dan membangun bisnis mereka dengan modal terbatas tanpa koneksi keluarga.

  • Manufaktur dan pertumbuhan industri domestik mendorong sektor-sektor utama seperti metalurgi, petrokimia, dan pertanian.

  • Perkembangan digital menarik masuknya modal baru. Konglomerat terkemuka secara aktif berinvestasi dalam pusat data, teknologi keuangan, dan platform digital, serta melakukan diversifikasi portofolio di tengah pertumbuhan ekonomi.

  • Total kekayaan gabungan para miliarder Indonesia mencapai ratusan miliar dolar, yang menyoroti besarnya pengaruh sektor bisnis negara ini di Asia Tenggara.

Siapakah Orang Terkaya di Indonesia?

Menurut Forbes, orang terkaya di Indonesia adalah Hartono bersaudara, Robert Budi dan Michael. Mereka menduduki peringkat teratas nasional dan termasuk di antara tokoh bisnis paling berpengaruh di Asia Tenggara.

Total kekayaan gabungan mereka melebihi $45 miliar, menjadikan mereka tetap berada di antara orang-orang terkaya di dunia selama bertahun-tahun. Sumber utama kekayaan mereka berasal dari kepemilikan saham mayoritas di Bank Central Asia (BCA), bank swasta terbesar di Indonesia, yang berperan besar dalam sistem keuangan negara.

Namun, bisnis mereka melampaui sektor perbankan. Mereka juga memiliki kerajaan tembakau Djarum, salah satu merek tertua dan paling dikenal di Indonesia. Hartono bersaudara secara aktif berinvestasi dalam teknologi digital, real estat, serta proyek keuangan dan infrastruktur. Portofolio mereka yang terdiversifikasi membantu mereka menghadapi penurunan ekonomi dan terus meningkatkan kekayaan.

Pada dasarnya, gelar orang terkaya di Indonesia bukan dimiliki oleh satu individu, melainkan oleh dua anggota keluarga. Kisah mereka menunjukkan bagaimana disiplin keuangan, pemahaman yang kuat terhadap tren pasar, dan manajemen yang efektif dapat menghasilkan pencapaian finansial yang luar biasa.

10 Orang Terkaya di Indonesia

Indonesia termasuk salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, didorong oleh pertumbuhan bisnis yang pesat dan lonjakan investasi. Momentum ini melahirkan gelombang baru pengusaha super kaya, yang kesuksesannya dibangun dari puluhan tahun kerja di bidang seperti energi, keuangan, teknologi, dan real estat. Di sini, kami menyoroti sepuluh individu terkaya di Indonesia, aset utama mereka, serta dampaknya terhadap perekonomian nasional.

R. Budi & Michael Hartono

Robert Budi Hartono (1941) dan Michael Bambang Hartono (1939–2026) tumbuh di Semarang dalam keluarga wirausaha Tionghoa-Indonesia. Setelah ayah mereka meninggal dunia dan terjadi kebakaran pabrik pada tahun 1963, keduanya membangun kembali bisnis tembakau Djarum dan mengembangkannya menjadi salah satu merek rokok terkemuka di Indonesia. Pada tahun 2002, mereka mengakuisisi saham mayoritas di Bank Central Asia, menjadikannya sebagai pusat dari kerajaan bisnis mereka.

LiteFinance: R. Budi & Michael Hartono

Sumber

Grup bisnis mereka mencakup merek elektronik Polytron, platform e-commerce Blibli, real estat kelas atas, perkebunan kelapa sawit, hingga klub sepak bola Italia Como. Robert Budi juga dikenal luas atas dukungannya terhadap bulu tangkis, dengan klubnya yang telah melahirkan banyak juara Olimpiade. Dengan total kekayaan gabungan yang diperkirakan mencapai $45–$48 miliar, kedua bersaudara ini telah mempertahankan posisi teratas dalam daftar orang terkaya di Indonesia selama lebih dari dua dekade.

Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada 19 Maret 2026 pada usia 86 tahun. Setelah wafatnya, Robert Budi Hartono menjadi orang terkaya di Indonesia. Namun, kekayaannya masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan Elon Musk.

Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu, lahir pada tahun 1943 di Palembang, adalah seorang miliarder Indonesia yang kekayaannya berasal dari sektor petrokimia dan energi. Ia memulai usahanya di bidang kayu sebelum beralih ke minyak dan gas pada tahun 1970-an. Saat ini, ia memimpin Chandra Asri Pacific, produsen petrokimia terbesar di Indonesia, yang merupakan aset utama dari Barito Pacific Group. Selain itu, ia juga mengendalikan Barito Renewables Energy yang berfokus pada energi panas bumi dan energi terbarukan, serta memiliki portofolio yang terus berkembang di sektor energi dan pertambangan.

LiteFinance: Prajogo Pangestu

Sumber

Pangestu dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup, jarang memberikan wawancara atau tampil di publik. Namun, pengaruhnya terhadap industri di Indonesia sangat besar. Melalui perusahaannya, ia mendorong berbagai proyek dalam pengolahan hidrokarbon, produksi polimer, dan pengembangan energi bersih.

Kekayaan Pangestu diperkirakan sebesar $25–$30 miliar, menjadikannya salah satu orang terkaya di Indonesia dan Asia Tenggara.

Keluarga Widjaja 

Keluarga Widjaja merupakan salah satu dinasti bisnis paling berpengaruh di Indonesia, yang dikenal sebagai pendiri Sinar Mas Group. Eka Tjipta Widjaja (1922–2019) memulai dari usaha perdagangan kecil di Makassar dan, selama beberapa dekade, mengembangkannya menjadi konglomerat besar yang terdiversifikasi.

Eka Tjipta Widjaja membangun kerajaan bisnisnya dari nol dan hidup hampir satu abad. Saat ini, perusahaan tersebut dikelola oleh generasi ketiga: Frankie Widjaja memimpin bidang keuangan, Anderson Tanoto menangani pengembangan strategis dan proyek internasional, sementara Aaron Levine mendorong transformasi digital.

Aset inti grup ini berada di sektor kelapa sawit, dengan Golden Agri-Resources yang tercatat di Bursa Efek Singapura.

Bisnis tersebut juga mencakup Asia Pulp & Paper, platform pengembangan properti Sinar Mas Land, serta layanan keuangan melalui Sinar Mas Multiartha, yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, mencakup sejumlah perusahaan paling bernilai di negara ini.

Kekayaan keluarga Widjaja diperkirakan sekitar $8–$12 miliar. Perusahaan berfokus pada integrasi vertikal, menghasilkan nilai tambah di dalam negeri, dan memenuhi standar lingkungan global. Pendekatan ini membantu grup tetap menjadi salah satu pemain utama di industri agribisnis Asia Tenggara.

Low Tuck Kwong

Low Tuck Kwong adalah miliarder Indonesia keturunan Tionghoa yang membangun kekayaannya di industri tambang batu bara. Lahir tahun 1948, ia memulai karier di perdagangan sebelum beralih ke tambang batu bara di Kalimantan pada 1990-an. Sekarang ia mengendalikan Bayan Resources, salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

LiteFinance: Low Tuck Kwong

Sumber

Bisnis Low Tuck Kwong merupakan bagian penting dari sektor energi Indonesia, yang menghasilkan pendapatan besar dari ekspor batu bara ke China, India, dan pasar Asia lainnya. Bayan Resources menonjol di antara saham energi lainnya karena operasi tambang terbuka dengan biaya rendah.

Low Tuck Kwong adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di sektor komoditas. Kekayaannya diperkirakan sekitar $15–$20 miliar, sehingga ia termasuk salah satu orang terkaya di Indonesia.

Anthoni Salim & Keluarga

Anthoni Salim memimpin Salim Group, salah satu konglomerat tertua dan paling terdiversifikasi di Indonesia. Ia mengambil alih bisnis pada tahun 2012 setelah ayahnya sekaligus pendiri, Liem Sioe Liong, meninggal dunia.

LiteFinance: Anthoni Salim & Keluarga

Sumber

Aset utama keluarga ini mencakup Indofood, salah satu produsen mie instan terbesar di dunia dengan sistem produksi makanan terintegrasi, serta Indomaret, jaringan minimarket terbesar di Indonesia dengan lebih dari 20.000 toko. Grup ini juga aktif di agribisnis, infrastruktur, dan investasi.

Keluarga ini berinvestasi di teknologi digital, pusat logistik, dan energi terbarukan. Kekayaan gabungan keluarga Salim diperkirakan sekitar $8–$12 miliar, menempatkan mereka sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.

Otto Toto Sugiri

Otto Toto Sugiri adalah seorang miliarder Indonesia yang membangun kekayaannya sendiri, pengusaha teknologi, dan salah satu pelopor infrastruktur digital di negara ini. Ia lahir di Jakarta dan memiliki gelar di bidang ilmu komputer. Kariernya di sektor teknologi informasi dimulai pada tahun 1990-an. Pada tahun 2012, ia mendirikan DCI Indonesia, yang saat ini merupakan operator pusat data terbesar di Asia Tenggara.

LiteFinance: Otto Toto Sugiri

Sumber

Di bawah kepemimpinan Sugiri, DCI Indonesia membangun jaringan data center di Jakarta, Batam, dan beberapa lokasi lain, yang melayani penyedia cloud internasional, institusi keuangan, dan organisasi pemerintah.

Sugiri dikenal sebagai orang yang ingin data penting disimpan di dalam negeri. Ia mendorong agar informasi penting tidak disimpan di luar negeri. Kekayaannya diperkirakan $1.5–$2.5 billion, dan ia menjadi salah satu pemain besar di sektor teknologi Indonesia.

Tahir

Tahir adalah miliarder Indonesia dan pendiri Mayapada Group, konglomerat yang bergerak di bidang keuangan dan kesehatan. Ia lahir tahun 1952 di Surabaya, memulai karier di dunia perbankan, lalu pada 1989 mendirikan bisnis sendiri yang kemudian berkembang menjadi banyak perusahaan.

LiteFinance: Tahir

Sumber

Tahir memiliki aset penting seperti Mayapada International Bank, jaringan Mayapada Hospital, proyek properti premium, dan aset media. Kekayaannya diperkirakan sekitar $2–$3 miliar, membuatnya menjadi pengusaha berpengaruh di sektor jasa Indonesia.

Melalui Tahir Foundation, Tahir mendukung program pendidikan, kegiatan kesehatan, dan proyek sosial. Saat ini, ia fokus pada pengembangan sumber daya manusia.

Marina Budiman

Marina Budiman adalah pengusaha sukses dari Indonesia, seorang miliarder, dan juga seorang pendiri DCI Indonesia, salah satu operator data center terbesar di Asia Tenggara. Ia lahir pada tahun 1962 dan mulai berwirausaha pada 1994 bersama Otto Toto Sugiri dengan mendirikan PT Indointernet (Indonet), penyedia internet pertama di Indonesia. Perusahaan ini kemudian berkembang menjadi DCI Indonesia.

LiteFinance: Marina Budiman

Sumber

Pada awal 2025, kekayaan Marina Budiman melonjak, bahkan bertambah sekitar $350 juta per hari selama beberapa minggu, dan sempat membuatnya menjadi perempuan terkaya di Indonesia. Menurut Forbes, kekayaannya mencapai $6.3 miliar. Ia juga masuk dalam daftar 50 perempuan terkaya di dunia pada tahun 2025.

Marina Budiman berinvestasi di infrastruktur cloud, teknologi pendingin ramah lingkungan, dan koneksi jaringan fiber optik internasional. Kisahnya menunjukkan bahwa fokus pada infrastruktur ekonomi digital bisa menghasilkan keuntungan besar.

Sri Prakash Lohia

Sri Prakash Lohia adalah miliarder Indonesia keturunan India, pendiri dan pemimpin Indorama Corporation, perusahaan global yang memproduksi polimer dan bahan kimia. Ia lahir tahun 1952 di India, lalu pindah ke Indonesia pada 1970-an dan memulai dari bisnis tekstil kecil yang kemudian berkembang menjadi salah satu pengolah poliester dan resin PET terbesar.

LiteFinance: Sri Prakash Lohia

Sumber

Di bawah kepemimpinan Sri Prakash Lohia, Indorama membangun pabrik di 20 negara, seperti Indonesia, Thailand, India, Amerika Serikat, dan di negera negara Eropa. Bisnis utamanya mencakup produksi serat sintetis untuk tekstil, kemasan minuman, dan bahan teknis untuk industri otomotif.

Sri Prakash Lohia dikenal sebagai orang yang mendukung ekonomi sirkular. Ia berinvestasi di teknologi daur ulang plastik serta upaya untuk mengurangi jejak karbon dalam proses manufaktur. Kekayaannya diperkirakan sekitar $2–$4 miliar, dan dia termasuk pemain besar di industri kimia Asia Tenggara.

Wijono & Hermanto Tanoko

Wijono Tanoko dan Hermanto Tanoko adalah dua saudara pengusaha di balik Wings Group, salah satu perusahaan barang konsumsi terbesar di Indonesia. Mereka memulai dari pabrik sabun kecil di Surabaya pada tahun 1980-an, lalu berkembang ke bisnis bahan kimia rumah tangga, produk perawatan diri, dan makanan.

Strategi mereka adalah menawarkan produk murah untuk pasar luas. Merek So Klin, Daia, Mie Sedaap, dan Wings Care bisa ditemukan di jutaan toko di seluruh Indonesia. Berkat pemahaman terhadap preferensi lokal serta jaringan penjualan yang efektif, Wings Group mampu bersaing dengan perusahaan internasional.

Aset Wijono Tanoko dan Hermanto Tanoko diperkirakan sekitar $4–$6 miliar, sehingga mereka menjadi salah satu tokoh penting di sektor manufaktur Indonesia. Kesuksesan mereka sangat dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dalam negeri dan bertambahnya kelas menengah.

Industri Utama di Balik Para Miliarder Terkaya di Indonesia

Kekayaan terbesar di Indonesia terkonsentrasi pada beberapa sektor industri.

Pertama, sektor energi dan ekstraksi sumber daya alam. Batu bara, nikel, minyak, dan gas alam masih jadi tulang punggung ekonomi Indonesia dan ekspor utamanya. Dari sektor ini, Prajogo Pangestu dan Low Tuck Kwong mendapatkan kekayaan mereka.

Kedua, sektor perbankan dan layanan keuangan. Keluarga Hartono menguasai bank swasta besar seperti Bank Central Asia, yang memberikan pemasukan stabil dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ketiga, sektor agribisnis, terutama produksi minyak sawit, punya peran besar. Indonesia adalah eksportir minyak sawit terbesar di dunia, dan bisnis keluarga seperti Widjaja (Sinar Mas) dan Salim grup telah membangun bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Keempat, sektor teknologi dan infrastruktur digital. Pertumbuhan internet dan kebutuhan layanan cloud mendorong investasi di data center, fintech, dan e-commerce. Kisah Marina Budiman dan Otto Toto Sugiri menunjukkan bahwa proyek infrastruktur digital bisa menghasilkan keuntungan skala global.

Dengan demikian, para tokoh terkaya di Indonesia umumnya berkecimpung di sektor sumber daya alam, keuangan, dan inovasi teknologi. Tiga sektor ini membentuk lanskap bisnis Indonesia dan menunjukkan arah utama pembangunan negara.

Kesimpulan

Menjadi orang terkaya di Indonesia tidak cuma soal sukses berbisnis, tapi juga kemampuan mengatur modal dengan baik dan melakukan diversifikasi aset di waktu yang tepat. Para miliarder besar di Indonesia membangun bisnis mereka di antara sektor lama dan sektor baru yang sedang berkembang. Kekayaan mereka berasal dari kepintaran berbisnis dan juga perkembangan ekonomi Indonesia.

Banyak dari pengusaha ini adalah contoh nyata kesuksesan yang di bangun dari nol. Mereka mulai dari kecil dan berhasil meraih hasil besar berkat kerja keras, visi, dan kemampuan beradaptasi. Ini menunjukkan bahwa Indonesia punya potensi besar dan terbuka terhadap pelaku usaha baru.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia terus memperkuat posisinya di Asia Tenggara. Sementara itu, para miliarder ikut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan membuka lapangan kerja, membawa teknologi baru, dan membantu perusahaan lokal masuk ke pasar internasional.

Pertanyaan Seputar Orang Terkaya di Indonesia

Menurut Forbes, terdapat lebih dari 50 konglomerat di negara ini. Jumlah tersebut bergantung pada estimasi nilai aset serta fluktuasi harga di pasar saham.

Di antara para miliarder Indonesia yang sukses berkat usaha sendiri, Prajogo Pangestu yang paling menonjol. Ia mengumpulkan kekayaannya melalui usaha bisnis di sektor energi, petrokimia, dan pengolahan kayu.

Siapa Orang Terkaya di Indonesia: Daftar Miliarder Teratas

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.

Nilai artikel ini:
{{value}} ( {{count}} {{title}} )
Mulai trading
Ikuti kami di jejaring sosial!
Live chat
Meninggalkan umpan balik
Live Chat