Arah pergerakan harga emas sangat bergantung pada dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury. Pada gilirannya, keduanya dipengaruhi oleh keputusan suku bunga The Fed serta inflasi. Ke mana arah pergerakan harga konsumen? Seberapa cepat penurunannya akan terjadi? Dan bagaimana XAU/USD akan merespons? Mari kita analisis faktor-faktor tersebut serta menyusun rencana perdagangan.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin-Poin Penting
- The Fed telah menekan pergerakan emas.
- Goldman Sachs menurunkan perkiraannya.
- Sejarah memberikan petunjuk mengenai arah pergerakan emas berikutnya.
- Pertimbangkan posisi beli apabila emas kembali menguat di atas 4,150.
Perkiraan Fundamental Mingguan untuk Emas
Saat emas mulai menunjukkan pemulihan seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan harga minyak, pernyataan Kevin Warsh justru memberikan tekanan baru terhadap logam mulia tersebut. Investor memperkirakan kandidat pilihan Donald Trump itu akan menyampaikan pandangan yang lebih lunak. Namun sebaliknya, komitmennya sebagai Ketua The Fed yang baru untuk mengembalikan inflasi ke target dipandang sebagai kejutan dengan sikap yang lebih ketat. Sebagai respons, dolar AS dan imbal hasil Treasury 2 tahun naik ke level tertinggi sejak pemerintahan memberlakukan tarif besar-besaran.
Harga Emas vs. Imbal Hasil Obligasi Pemerintah
Sumber: Bloomberg.
Penurunan pasangan XAU/USD menjadi pengingat terhadap realitas pasar bahkan bagi investor yang paling optimistis terhadap emas. Goldman Sachs menurunkan perkiraan akhir 2026 untuk emas dari $5,400 menjadi $4,900 per ons setelah merevisi pandangannya terhadap suku bunga dana federal. Sebelumnya, bank tersebut memperkirakan penurunan suku bunga pada Desember 2026 dan Maret 2027, namun kini memperkirakan langkah tersebut akan terjadi pada Juni dan Desember 2027. Jika The Fed memperketat kebijakan moneternya, seperti yang diproyeksikan pasar derivatif, emas berpotensi menutup tahun di $4,400.
Arah imbal hasil Treasury dan dolar AS, sebagai dua pendorong utama XAU/USD, akan bergantung pada langkah The Fed selanjutnya. Keputusan tersebut akan ditentukan oleh perkembangan inflasi. Apakah kenaikan inflasi yang dipicu konflik di Timur Tengah hanya bersifat sementara seperti yang diklaim pemerintah AS? Ataukah tekanan harga akan tetap tinggi dalam periode yang lebih lama?
Kinerja Saham, Minyak, dan Emas
Sumber: Wall Street Journal.
Untuk memahami arah emas selanjutnya, penting untuk melihat kembali situasi pada 2022 dan 2025. Dalam kedua periode tersebut, pasar memperkirakan inflasi akan meningkat. Pada 2022, kekhawatiran muncul akibat konflik di Ukraina dan kenaikan harga minyak. Sementara pada 2025, investor khawatir tarif Donald Trump akan mendorong kenaikan harga. Akibatnya, pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga. Pada 2022–2023, perkiraan tersebut terbukti tepat. Namun, inflasi juga didorong oleh pemulihan ekonomi yang cepat setelah pandemi. Pada 2025, situasinya berbeda, dan The Fed justru memilih melonggarkan kebijakan moneternya.
Dalam kedua kasus tersebut, tekanan pada emas hanya berlangsung dalam jangka pendek. Pada 2022, harga emas turun selama beberapa bulan sebelum kembali pulih dan melanjutkan tren kenaikan yang didukung permintaan kuat dari bank sentral. Pada 2025, periode konsolidasi singkat kemudian diikuti oleh penguatan kembali.
Investor yang optimistis terhadap emas tampaknya tidak perlu kehilangan harapan. Pasar bereaksi terlalu kuat terhadap komentar Kevin Warsh yang lebih ketat setelah sebelumnya memperkirakan ia akan mengambil sikap yang lebih lunak. Perlambatan inflasi lebih lanjut dapat mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, melemahkan dolar AS dan imbal hasil Treasury, serta menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi emas.
Rencana Trading Mingguan untuk XAU/USD
Investor sebaiknya mulai mencari peluang pembelian emas. Mereka yang membuka posisi beli pada harga $4,070 per ons dapat terus mempertahankannya dan mempertimbangkan untuk menambah posisi baru jika harga stabil di atas $4,150. Pada saat yang sama, penurunan menuju $3,950 tidak dapat dikesampingkan.
Perkiraan ini didasarkan pada analisis faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data pasar historis juga dipertimbangkan.
Grafik harga XAUUSD dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.















































































