Pemerintah Inggris dan Bank of England tampaknya telah mengambil keputusan yang tepat, sebagaimana tercermin dalam data pertumbuhan GDP bulan Februari. Namun, pecahnya konflik di Timur Tengah pada bulan Maret mengubah kondisi secara menyeluruh. Bagaimana respons harga GBP/USD, dan apa yang akan terjadi selanjutnya? Mari kita analisa pertanyaan ini dan susun rencana trading.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin-Poin Penting
- Konflik di Timur Tengah diperkirakan menekan ekonomi Inggris.
- Pertumbuhan GDP Inggris naik hingga 0,5% pada bulan Februari.
- Bank of England tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga.
- GBP/USD dapat dibeli ketika mengalami koreksi ke level 1.35 dan 1.347.
Prakiraan Fundamental Mingguan untuk Pound Sterling
Mata uang biasanya menguat ketika ekonominya kuat atau ketika tidak lagi dianggap “lemah”. Dalam kasus pound Inggris, kedua faktor tersebut terjadi secara bersamaan. Akibatnya, mata uang Inggris pulih ke level sebelum perang lebih cepat dibandingkan sebagian besar mata uang Eropa lainnya. Namun, hingga awal April, investor banyak yang sudah tidak lagi mengharapkan tren naik pada GBP/USD.
Menurut IMF, ekonomi Inggris merupakan yang paling rentan di antara negara G7 akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga energi dapat mengurangi 0.5 percentage points dari GDP Inggris pada tahun 2026 dan 0.2 percentage points pada tahun 2027. Jerman terlihat sedikit lebih baik, dengan penurunan sebesar 0.6 percentage points dalam dua tahun.
Prakiraan IMF untuk Negara-negara G7
Sumber: Bloomberg.
Penilaian yang cenderung pesimistis tersebut mendorong investor untuk menjual obligasi pemerintah Inggris lebih cepat dibandingkan obligasi negara Eropa lainnya, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah Inggris naik di atas negara-negara lain. Kondisi ini diperkirakan akan mendukung pound segera setelah muncul tanda-tanda de-eskalasi di Timur Tengah, dan hal tersebut memang terjadi. Meningkatnya daya tarik aset Inggris mendorong arus modal kembali (repatriasi modal), sehingga pound dapat pulih.
Imbal Hasil Obligasi di Eropa
Sumber: Bloomberg.
Data GDP Inggris yang kuat semakin mendorong kenaikan GBP/USD. Pada bulan Februari, ekonomi tumbuh sebesar 0.5%. Sebelum konflik di Iran, pemerintah dan Bank of England tampaknya berada pada jalur yang tepat. Anggaran Rachel Reeves berjalan sesuai rencana, begitu juga kebijakan moneter BoE. Namun, kini perlu diperhitungkan dampak faktor geopolitik terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Kontribusi terhadap Pertumbuhan GDP Inggris
Sumber: Bloomberg.
Kenaikan harga minyak dan gas alam dapat mendorong inflasi konsumen Inggris mendekati 5% pada akhir tahun 2026, memaksa Bank of England untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, IMF menganjurkan kebijakan yang lebih longgar, dengan alasan melambatnya pertumbuhan GDP.
BoE memang berada dalam posisi yang sulit. Bahkan sebelum konflik bersenjata di Timur Tengah, Komite Kebijakan Moneter (MPC) sudah terbelah. Kini, mencapai kesepakatan akan menjadi sangat sulit. Sementara Megan Greene menilai ekspektasi pasar uang terhadap dua kali kenaikan repo rate pada 2026 masih wajar, Andrew Bailey menegaskan bahwa bank sentral tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Pernyataan dari Gubernur BoE tersebut mengurangi kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter pada akhir April.
Rencana Trading Mingguan untuk GBP/USD
Konflik di Timur Tengah memang telah berakhir, namun langkah akhir menuju kesepakatan damai yang berkelanjutan masih menjadi tantangan terbesar. Dengan harga minyak yang masih tinggi, kenaikan GBP/USD tampak terlalu cepat, sehingga mengindikasikan kemungkinan koreksi. Meski demikian, penurunan menuju level support 1.35 dan 1.347 dapat menghadirkan peluang beli yang menarik.
Prakiraan ini didasarkan pada analisis faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data pasar historis juga dipertimbangkan.

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.













































