Rencana AS untuk menambah kembali cadangan minyak dengan minyak mentah Venezuela, disertai meningkatnya lalu lintas melalui Selat Hormuz, semestinya dapat mendorong harga Brent kembali menuju kisaran $80–90. Namun, skenario tersebut belum terwujud. Mari kita lihat apa yang membuat harga minyak tetap terkendali serta menyusun strategi trading untuk Brent.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin-Poin Utama
- Rasa takut dan keserakahan sedang menarik harga Brent ke arah yang berlawanan.
- Lalu lintas melalui Selat Hormuz semakin meningkat.
- Investor sedang bersiap menghadapi konflik yang berkepanjangan.
- Posisi beli pada Brent masih bisa dipertimbangkan selama harga bertahan di atas $91.
Prakiraan Fundamental Mingguan untuk Minyak
Mengapa harga Brent meningkat? Sekilas, jawabannya tampak cukup jelas. Sepanjang Agustus, Brent bergerak dalam kisaran perdagangan tersempit sejak Desember, seiring konflik di Timur Tengah bergeser antara eskalasi dan penurunan ketegangan. Investor pada umumnya memperkirakan bahwa AS tidak akan menyerang Iran, melainkan memusatkan perhatian pada Operation Economic Outcast. Namun, kembali berkobarnya konflik dengan cepat mendorong harga minyak menembus $95 per barel.
Washington bukan hanya memberlakukan sanksi terhadap Teheran, tetapi juga berupaya mengecilkan arti strategis Selat Hormuz. Menurut Scott Bessent, dalam dua tahun selat tersebut dapat kehilangan sebagian besar perannya karena minyak dari Teluk Persia dialihkan melalui rute alternatif. Namun, masih terlalu dini untuk memastikan apakah hal itu akan benar-benar terjadi. US Energy Information Administration mencatat bahwa sekitar 8 juta barel per hari saat ini masih melewati jalur yang menjadi salah satu urat nadi penting perdagangan energi global. Sementara itu, 4–5 juta barel per hari ekspor Timur Tengah lainnya dialirkan melalui rute alternatif.
Goldman Sachs memperkirakan total ekspor minyak dan produk minyak dari kawasan tersebut berada di kisaran 15–16 juta barel per hari. Angka ini masih 7–8 juta barel per hari di bawah level sebelum konflik, namun jauh lebih tinggi dibandingkan 5–6 juta barel per hari yang tercatat pada Maret. Peningkatan lalu lintas melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama di balik pemulihan tersebut.
Sementara itu, Iran tidak perlu menyerang setiap kapal yang melintasi selat tersebut. Menenggelamkan hanya beberapa kapal bisa cukup untuk membuat para pemiliknya merasa khawatir dan mengganggu kelancaran lalu lintas. Pada akhirnya, pasar minyak berada di antara rasa takut dan dorongan mencari keuntungan. Ketika keuntungan kapal tanker raksasa mencapai rekor, daya tarik keuntungan yang sangat besar terkadang mampu mengalahkan kekhawatiran terhadap keselamatan.
Produksi Minyak di Venezuela
Sumber: Bloomberg.
Lalu, mengapa harga Brent terus meningkat? Anggapan bahwa kenaikan tersebut semata-mata disebabkan oleh berkurangnya arus minyak melalui Selat Hormuz tampaknya tidak cukup menjelaskan keadaan. Jadi, apa yang sebenarnya mendorong harga lebih tinggi? Apakah penurunan tajam persediaan minyak global? Cadangan minyak strategis AS kini berada di level terendah sejak 1982, tetapi Donald Trump berencana mengisinya kembali dengan minyak Venezuela. Negara tersebut memiliki cadangan minyak yang sangat besar, dan produksinya berpotensi meningkat hingga dua kali lipat dengan dukungan investasi AS.
Menurut pandangan saya, faktor terpenting adalah perubahan persepsi investor terhadap konflik tersebut. Sebelumnya, pasar memperkirakan situasi di Timur Tengah akan kembali stabil dan memilih menunggu ketegangan mereda sebelum menjual Brent. Namun, pandangan itu kini telah berubah. Konflik tersebut berpotensi berlangsung selama berbulan-bulan, mempertahankan premi risiko pada level tinggi dan membuka ruang bagi Brent untuk terus menguat.
Rencana Trading Mingguan untuk Brent
Dalam kondisi seperti ini, Brent bisa naik hingga $103 dan $108. Selama harga bertahan di atas $91, fokus sebaiknya tetap pada membeli saat harga turun dan menambah posisi beli ketika terjadi koreksi. Saya tidak memperkirakan keinginan mencari keuntungan akan mengalahkan rasa takut dalam waktu dekat. Tanpa penurunan ketegangan yang berarti dalam konflik di Timur Tengah, harga Brent kemungkinan akan terus naik.
Prakiraan ini didasarkan pada analisis faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data historis pasar juga turut dipertimbangkan.
Grafik harga UKBRENT dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.








