Kenaikan suku bunga BoJ pada September menandai perubahan luar biasa dalam kebijakan moneter. Jepang belum pernah menjalani siklus pengetatan secepat ini sejak 1990. Saat itu, Jepang dipandang sebagai ancaman ekonomi besar bagi Amerika Serikat. Kini, negara tersebut telah jelas meninggalkan kerangka kebijakan moneter yang sebelumnya sangat longgar. Mari kita melihat apa arti perubahan ini bagi yen Jepang serta menyusun rencana trading untuk USD/JPY.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin-Poin Utama
- Bank of Japan berencana menaikkan suku bunga.
- Tujuan utama BoJ adalah mencegah keadaan semakin memburuk.
- Pemerintah Jepang tidak menentang pengetatan kebijakan moneter.
- Posisi jual dapat dibuka jika pasangan USD/JPY turun di bawah 154.4.
Prakiraan Fundamental Mingguan untuk Yen
Jepang sedang berubah dari raksasa ekonomi yang tertidur menjadi negara yang semakin menarik sebagai tujuan investasi. Akankah pengetatan kebijakan moneter Bank of Japan membantu atau justru menghambat proses ini? Pasar yakin suku bunga overnight akan naik dari 1% menjadi 1.25% dalam rapat Board of Governors pada 17–18 September, dan memberikan probabilitas 80% untuk pengetatan lebih lanjut hingga akhir tahun. Jika terealisasi, ini akan menjadi laju pengetatan moneter tercepat sejak 1990. Saat itu, pengetatan memicu indeks saham anjlok dan turut menyebabkan periode stagnasi yang berkepanjangan. Saat ini, normalisasi kebijakan moneter justru menarik modal dan mendukung kenaikan indeks saham utama Jepang, termasuk Nikkei 225 dan TOPIX.
Suku Bunga Overnight BoJ dan TOPIX
Sumber: Bloomberg.
Perkiraan kenaikan suku bunga tersebut akan menjadi yang ketiga dalam 10 bulan—sesuatu yang belum pernah terjadi di Jepang sejak masa ketika negara itu dipandang sebagai ancaman terhadap dominasi ekonomi AS. Di bawah kepemimpinan Kazuo Ueda, BoJ telah memperketat kebijakan moneter sebanyak enam kali, lebih banyak daripada gubernur bank sentral mana pun dalam setengah abad terakhir. Biaya pinjaman yang lebih tinggi saja tampaknya tidak mungkin membuat indeks saham Jepang anjlok. Pada 1990, rasio P/E ke depan melonjak hingga sekitar 70, menunjukkan valuasi yang sangat tinggi. Saat ini, Nikkei 225 diperdagangkan pada rasio P/E sekitar 21, sementara TOPIX berada di sekitar 17.
Dengan demikian, Perdana Menteri Sanae Takaichi bisa dibilang dapat merasa lebih tenang. Seperti Donald Trump, ia juga menunjukkan perhatian terhadap kinerja pasar saham. Jika pasar mampu menyerap suku bunga yang lebih tinggi, lalu mengapa tidak menaikkannya? Hal ini semakin masuk akal mengingat adanya kesenjangan yang cukup besar antara imbal hasil obligasi dan biaya pinjaman, yang menunjukkan bahwa Bank of Japan tertinggal dalam kebijakan dan terlalu lambat menormalisasi kebijakan moneter.
Selisih antara Imbal Hasil Obligasi Jepang Tenor 2 Tahun dan Suku Bunga Kebijakan BoJ
Sumber: Bloomberg.
Secara teori, Bank of Japan masih memiliki ruang untuk tidak terburu-buru. Sekilas, inflasi 1.8% menjadi alasan utama bagi kubu yang menginginkan kebijakan lebih lunak di Dewan Gubernur. Namun, subsidi energi dari pemerintah membantu menjaga harga tetap terkendali. Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent yang naik di atas $100 per barel dan yen yang melemah dapat mendorong inflasi CPI menembus 3%.
Dengan demikian, tugas utama BoJ adalah menjaga agar langkahnya tidak merusak kemajuan yang telah dicapai bersama pemerintah dalam menekan USD/JPY. Jika pasar telah memperhitungkan kenaikan suku bunga overnight ke 1.25%, BoJ mungkin perlu merealisasikannya sekaligus memberi sinyal bahwa pengetatan moneter lanjutan masih menjadi opsi. Namun, arah USD/JPY membutuhkan dua pihak. Pergerakannya tidak hanya ditentukan BoJ, tetapi juga The Fed, yang akan mengumumkan keputusannya lebih dulu.
Rencana Trading Mingguan untuk USDJPY
Dalam kaitan ini, trader perlu mempertimbangkan beberapa skenario. Pernyataan tegas dari The Fed dan sikap netral Bank of Japan akan menciptakan kondisi yang mendukung untuk menambah posisi beli yang dibuka di 154.4. Pengetatan kebijakan moneter secara agresif oleh kedua bank sentral dapat membuat pergerakan USD/JPY sangat bergejolak, dengan aksi jual saat harga naik. Sebaliknya, kekecewaan terhadap The Fed dapat membuka peluang untuk menjual dolar AS terhadap yen di dekat 154.4. Dalam kondisi ini, pidato Kazuo Ueda mungkin tidak lagi menjadi faktor penting.
Prakiraan ini didasarkan pada analisis faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data historis pasar juga turut dipertimbangkan.
Grafik harga USDJPY dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.









