Lonjakan imbal hasil obligasi secara global tidak hanya didorong oleh kenaikan harga minyak. Pasar semakin khawatir bahwa keengganan bank sentral untuk bertindak tegas dapat membuat tekanan inflasi lepas kendali. Terhadap latar belakang ini, The Fed mungkin perlu mengadopsi sikap yang lebih agresif. Mari kita periksa situasinya dan susun rencana perdagangan untuk pasangan mata uang EUR/USD.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin Utama
- Imbal hasil obligasi Treasury 30-tahun telah mencapai level tertinggi sejak tahun 2007.
- Pasar merasa khawatir bahwa inflasi bisa menjadi tidak terkendali.
- The Fed mungkin mulai mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga.
- Posisi jual pada pasangan mata uang EUR/USD dapat dibuka dengan target di level 1.144 dan 1.138.
Perkiraan Fundamental Mingguan untuk Dolar
Rintangan terakhir bagi penguatan dolar AS telah tersingkir. Ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak yang diakibatkannya menciptakan latar belakang yang sempurna bagi reli indeks USD. Namun, greenback sempat bergerak maju dengan berhati-hati di tengah lonjakan indeks saham AS. Terhadap latar belakang ini, investor non-residen biasanya melakukan lindung nilai (hedging) atas risiko investasi ekuitas dengan menjual mata uang AS. Penurunan sementara S&P 500 dari rekor tertinggi selama tiga sesi berturut-turut secara efektif melenyapkan sumber dukungan terakhir bagi pasangan mata uang EUR/USD.
Aksi jual pada obligasi global memicu penurunan sementara pada indeks saham. Imbal hasil obligasi Treasury 30-tahun mencapai level tertinggi sejak tahun 2007. Kenaikan pada imbal hasil obligasi ini tidak hanya didorong oleh kekhawatiran akan percepatan inflasi akibat konflik di Timur Tengah. Jepang cenderung memilih stimulus fiskal untuk mendukung perekonomian dan konsumen. Inggris mungkin akan mengikuti langkah tersebut di tengah krisis politik. Ketidakselarasan antara kebijakan moneter yang ketat dan kebijakan fiskal yang longgar memaksa investor untuk menjual obligasi.
Imbal Hasil Obligasi Treasury 30-Tahun
Sumber: Bloomberg.
Namun, masalahnya sebenarnya jauh lebih mendalam. Pada awal pecahnya konflik di Timur Tengah, para investor memperkirakan bank-bank sentral akan memperketat kebijakan moneter secara agresif. Namun kemudian, pandangan mereka berubah. Suku bunga yang lebih tinggi mulai dipandang sebagai sebuah kesalahan kebijakan, karena dapat mendorong perekonomian ke jurang resesi. Pada akhirnya, kekhawatiran pasar tersebut mulai didengar. ECB (Bank Sentral Eropa), BoE (Bank Sentral Inggris), dan regulator lainnya yang awalnya tampak bertekad kuat untuk melawan inflasi, mulai mencari cara untuk menarik kembali retorika mereka sebelumnya.
Akibatnya, investor mulai mengkhawatirkan skenario yang berbeda: keengganan bank sentral untuk bertindak tegas dapat membuat harga konsumen melonjak lepas kendali. Dalam kondisi seperti ini, memegang obligasi menjadi jauh kurang menarik, sehingga memaksa pasar untuk menuntut premi risiko yang lebih tinggi. Seberapa tinggi imbal hasil ini bisa naik? Menurut survei dari Bank of America, imbal hasil obligasi 30-tahun bisa mendaki hingga ke level 6% dalam 12 bulan ke depan.
Suku Bunga Dana Federal dan Inflasi AS
Sumber: Wall Street Journal.
Dalam situasi ini, satu-satunya solusi yang tepat adalah bagi bank-bank sentral untuk kembali ke retorika yang hawkish. The Fed harus menjadi yang pertama melakukan hal tersebut untuk menenangkan pasar. Dengan begitu, pasar akan mendapatkan kembali harapan bahwa The Fed tidak akan membiarkan inflasi lepas kendali.
Terkait hal ini, Kevin Warsh mungkin akan menghadapi tantangan yang signifikan. Donald Trump, yang menunjuknya sebagai ketua The Fed, telah menyatakan bahwa ia akan kecewa jika Warsh gagal menurunkan suku bunga. Namun, kondisi pasar saat ini menunjukkan hal sebaliknya yang mungkin diperlukan: kebijakan moneter yang lebih ketat dan bahkan potensi suku bunga yang lebih tinggi.
Rencana Perdagangan Mingguan untuk EUR/USD
Penurunan sementara pada indeks S&P 500 di tengah lonjakan imbal hasil Treasury telah menyingkirkan rintangan terakhir bagi pasangan mata uang EUR/USD dalam jalurnya menuju target level 1.144 dan 1.138. Oleh karena itu, posisi jual dapat dipertimbangkan.
Perkiraan ini didasarkan pada analisis faktor-faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data historis pasar juga turut dipertimbangkan.
Grafik harga EURUSD dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.











