Tampaknya perlambatan inflasi—dan penurunan probabilitas pengetatan kebijakan oleh The Fed yang menyertainya—dikombinasikan dengan turunnya imbal hasil Treasury serta kenaikan pada S&P 500, seharusnya membuat Dolar AS anjlok. Namun, hal itu tidak terjadi. Mengapa? Mari kita teliti lebih dalam dan menyusun rencana perdagangan untuk EUR/USD.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin Utama
- Inflasi AS terus melambat.
- Probabilitas kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2026 semakin menurun.
- Dolar AS menjadi semakin sensitif terhadap harga minyak.
- Posisi jual pada EUR/USD yang dibuka di level 1.1565 dapat dipertahankan.
Perkiraan Fundamental Mingguan untuk Dolar
Terkadang, tidak mengambil tindakan adalah langkah terbaik. Perlambatan inflasi telah memberikan sedikit ruang bernapas bagi The Fed. Pasar kini memperkirakan suku bunga akan tetap berada di levelnya saat ini dan telah menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September dari 50% menjadi 40%. Indeks saham telah mengalami kenaikan, sementara imbal hasil Treasury mengalami penurunan. Pasangan mata uang EUR/USD merespons persis seperti yang diperkirakan—naik menuju level 1.1565 memungkinkan para trader untuk menambah posisi jual.
Inflasi AS
Sumber: Wall Street Journal.
Kejutan terbesar dalam laporan tersebut justru adalah ketiadaan kejutan. Harga konsumen dan inflasi inti keluar persis sesuai dengan ekspektasi, baik secara bulanan maupun tahunan. Angka CPI bergerak semakin jauh dari titik tertingginya pada bulan Mei, yang memberikan lebih banyak ruang bagi kelompok melunak di FOMC untuk menyuarakan pandangan yang tidak biasa. Mengapa harus menaikkan suku bunga jika langkah tersebut tidak akan mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan percepatan inflasi? Pengetatan kebijakan moneter tidak akan mengakhiri konflik di Timur Tengah, dan tidak akan membujuk pemerintah AS untuk mencabut kebijakan tarif.
Pasar berjangka telah mengabaikan ekspektasi terhadap dua putaran pengetatan moneter pada tahun 2026, tetapi terus memperhitungkan kemungkinan terjadinya satu kali pengetatan. Tidak sulit untuk memahami jalan pikiran para investor. Salah satu faktor di balik perlambatan inflasi pada bulan Juni dan Juli adalah penurunan harga bensin. Namun, minyak mentah Brent kembali mengalami kenaikan pada bulan Agustus di tengah peningkatan konflik di Timur Tengah, yang memberikan tekanan kenaikan kembali pada harga produk-produk olahan minyak bumi.
Ekspektasi Pasar terhadap Suku Bunga Fed
Sumber: Bloomberg.
Terlepas dari klaim berani Donald Trump bahwa AS mengendalikan Selat Hormuz, penurunan tajam pada lalu lintas kapal yang melewati selat tersebut—dari 130 tanker sebelum perang menjadi hanya 14—menunjukkan hal yang sebaliknya. Hal ini semakin jelas mengingat 11 dari 14 kapal tersebut justru memilih rute yang ditentukan oleh Iran. Gedung Putih mulai mengalihkan strateginya dari serangan udara menuju tindakan blokade ekonomi, tetapi Teheran telah hidup di bawah sanksi selama bertahun-tahun. Semakin lama rute pasokan minyak utama dunia tersebut tetap tertutup, semakin besar risiko bahwa harga Brent akan melonjak di atas $100 per barel dan inflasi akan kembali mengalami percepatan.
Skenario inilah yang mulai diperhitungkan oleh pasar komoditas dan mata uang. Alhasil, Dolar AS kembali menguat setelah sempat melemah pasca-rilis laporan tenaga kerja dan inflasi. Selain itu, pemulihan pengembalian tarif secara luas bagi perusahaan-perusahaan di S&P 500 memberikan dorongan positif tidak hanya bagi pasar saham tetapi juga bagi perekonomian AS. Kebangkitan kembali American exceptionalism ini turut mendukung pergerakan greenback. Menurut Wall Street Journal, 40 perusahaan telah melaporkan pengembalian bea masuk dengan total nilai $9.6 miliar, sementara Badan Bea Cukai telah menerima pengajuan senilai total $128.7 miliar.
Rencana Perdagangan Mingguan untuk EUR/USD
Sikap pasif The Fed—setidaknya hingga bulan Oktober—memungkinkan para investor untuk mengalihkan fokus mereka ke arah isu-isu geopolitik. Pergerakan Brent kini menjadi penggerak utama bagi pasangan mata uang EUR/USD. Untuk saat ini, sangat masuk akal untuk tetap mempertahankan posisi jual yang sebelumnya telah dibuka pada level 1.1565.
Perkiraan ini didasarkan pada analisis faktor-faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data historis pasar juga turut dipertimbangkan.
Grafik harga EURUSD dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.











