Faktor geopolitik telah lama mendorong harga Brent lebih tinggi. Namun, harapan akan berakhirnya konflik di Timur Tengah kini mendorong harga minyak lebih rendah. Mari kita tinjau situasinya serta menyusun rencana trading.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin-Poin Penting
- China telah memangkas impor minyaknya secara signifikan.
- AS dan Iran tetap melanjutkan upaya negosiasi.
- Pemulihan jalur transit memerlukan proses yang panjang.
- Selama Brent bergerak di bawah $98.6, strategi jual dapat dipertimbangkan.
Prakiraan Fundamental Mingguan untuk Minyak
Harga minyak yang tinggi mulai menekan permintaan dan mendorong peningkatan pasokan. Situasi ini membantu AS meningkatkan ekspor ke level tertinggi sepanjang sejarah, sementara China memangkas impor minyaknya menjadi 6.6 juta barel per hari, level terendah sejak 2016. Di saat yang sama, penggunaan cadangan minyak strategis turut membantu mengurangi tekanan terhadap ekonomi global selama krisis pasar minyak terburuk dalam sejarah. Dengan demikian, pasar kemungkinan telah melewati puncak krisis. Perhatian kini tertuju pada seberapa cepat Brent dapat kembali ke level sebelum perang.
Impor Minyak Mentah China
Sumber: Wall Street Journal.
Beli ketika ketakutan berada di puncaknya, dan jual saat ketegangan mulai mereda. Meski eskalasi antara AS dan Iran meningkat akibat serangan terhadap kapal peletak ranjau di Selat Hormuz, Washington maupun Teheran tampaknya masih berkomitmen melanjutkan negosiasi. Di sisi lain, peningkatan lalu lintas kapal tanker di jalur utama pengiriman minyak dunia turut mendukung perbaikan sentimen investor.
Tahap awal kesepakatan akan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Tahap berikutnya akan membahas isu yang lebih kompleks, termasuk pelonggaran sanksi, pencairan aset Iran yang dibekukan, dan program nuklir Teheran. Saat ini, Iran masih menolak menghentikan biaya transit kapal tanker meski mendapat tekanan dari Washington. Oleh karena itu, masih terlalu cepat untuk memastikan tercapainya kesepakatan, terlebih implementasi penuh dari perjanjian tersebut.
Kurva Harga Minyak Berjangka
Sumber: Wall Street Journal.
Meski demikian, pasar kerap bergerak mendahului peristiwa aktual karena investor berupaya menghindari kehilangan momentum kenaikan harga. FOMO, atau fear of missing out, turut memberikan tekanan turun pada harga Brent. Fokus utama saat ini adalah seberapa cepat Brent mampu kembali ke level sebelum perang. Berdasarkan kurva berjangka, proses pemulihan ini diperkirakan berlangsung secara bertahap. Pasar derivatif mengindikasikan harga minyak akan berada di kisaran $83 per barel pada akhir 2026 dan sekitar $76 setahun setelahnya.
Goldman Sachs menilai terdapat alasan kuat di balik kondisi ini. Lalu lintas melalui Selat Hormuz diperkirakan tidak akan kembali normal dalam waktu dekat. Keterbatasan ketersediaan kapal tanker kosong serta kapasitas pipa yang terbatas untuk mengangkut minyak yang disimpan akan memperlambat proses, sementara pemilik kapal tanker masih mencermati risiko serangan baru. Produksi minyak juga memerlukan waktu untuk pulih, khususnya di ladang yang telah lama tidak beroperasi.
Rencana Trading Mingguan untuk Brent
Namun, investor cenderung lebih fokus pada arah pergerakan dibandingkan kecepatannya. Jika situasi di Timur Tengah terus stabil, Brent berpotensi bergerak lebih rendah. Kegagalan negosiasi antara AS dan Iran akan menjadi faktor utama untuk membeli minyak. Sebaliknya, kemajuan lebih lanjut menuju kesepakatan dapat menjadi sinyal untuk membuka posisi jual. Selama Brent berada di bawah $98.6 per barel, strategi jual dapat dipertimbangkan.
Prakiraan ini didasarkan pada analisis faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data pasar historis juga dipertimbangkan.
Grafik harga UKBRENT dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.


































