Eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah Brent, serta meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga Fed yang menyertainya, turut menyokong pergerakan tren turun EUR/USD. Hal yang sama juga dibantu oleh pernyataan agresif dari Federal Reserve. Mari kita analisis situasinya dan menyusun sebuah rencana perdagangan.
Artikel tersebut mencakup topik-topik berikut:
Poin Utama
- The Fed tengah mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga.
- AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz.
- Tingkat inflasi akan menjadi penentu nasib pergerakan dolar ke depan.
- Data CPI yang kuat akan membuka peluang untuk melakukan penjualan euro dengan target di level 1.13.
Perkiraan Fundamental Harian untuk Dolar
Jika Kevin Warsh tetap memilih bungkam, pasar akan mulai mendengarkan pejabat The Fed lainnya. Sebagai contoh, Christopher Waller sempat mengisyaratkan adanya pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun 2025—yang pada akhirnya benar-benar terjadi. Kini, pejabat FOMC tersebut justru sedang mendiskusikan pengetatan kebijakan moneter. Ditambah dengan eskalasi konflik di Timur Tengah, faktor-faktor ini sukses mendorong kuotasi harga EUR/USD bergerak turun.
Sangat sulit untuk bernegosiasi dengan negara yang kepemimpinannya bahkan tidak dapat mencapai konsensus di dalam jajarannya sendiri. Para diplomat Iran dilaporkan telah memberi tahu pihak mediator bahwa mereka siap untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat, namun ruang gerak mereka sangat terbatas. Korps Garda Revolusi Islam tetap menentang keras jalur negosiasi dan hanya mengakui bahasa kekuatan—sebuah pesan yang tampaknya direspons dengan serius oleh AS.
Donald Trump telah menyatakan bahwa AS akan bertindak sebagai penjamin keamanan di Selat Hormuz dan meminta biaya sebesar 20% atas penyediaan perlindungan tersebut. Minyak mentah Brent merespons pernyataan ini dengan reli kenaikan paling tajam sejak masa pandemi, menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa inflasi dapat berakselerasi kembali di luar kendali para pembuat kebijakan.
Ekspektasi Pasar Terhadap Suku Bunga Fed
Sumber: Bloomberg.
Christopher Waller berpendapat bahwa kenaikan suku bunga harus tetap dipertimbangkan setidaknya pada bulan Juli ini, terutama jika laporan CPI bulan Juni menunjukkan akselerasi lebih lanjut pada inflasi inti. Menurut pandangannya, tekanan inflasi terus meningkat tanpa memandang indikator apa pun yang digunakan, sehingga tidak ada alasan kuat untuk menunda tindakan kebijakan. Menyusul pernyataan agresif tersebut, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC mendatang yang tersirat di pasar melonjak ke angka 42%, naik signifikan dari yang hanya sebesar 18% pada awal bulan.
Eskalasi ketegangan di Timur Tengah, lonjakan harga minyak mentah Brent, serta retorika The Fed yang kian agrasif membentuk kombinasi kekuatan yang kuat, di mana hanya sedikit mata uang yang mampu bertahan melawan dolar AS.
Investasi Asing di Saham AS
Sumber: Bloomberg.
Apa yang dapat mengganjal penguatan dolar AS lebih lanjut? Menurut Apollo Global Management, salah satu risiko potensialnya adalah arus keluar modal asing yang dipicu oleh aksi jual yang lebih dalam pada saham-saham terkait AI. Argumennya adalah bahwa boom AI telah menarik investasi asing dalam jumlah besar ke pasar ekuitas AS, di mana sebagian besar investasi tersebut dibiarkan tanpa lindung nilai akibat tingginya suku bunga AS. Oleh karena itu, rotasi keluar dari sektor Big Tech dapat memicu repatriasi modal, yang pada akhirnya akan menekan indeks dolar AS.
Meski demikian, argumen tersebut tampaknya kurang meyakinkan. Para investor tidak perlu meninggalkan pasar ekuitas AS secara keseluruhan—mereka cukup melakukan rotasi ke sektor lain, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh banyak investor domestik saat ini. Dalam kondisi sekarang, ketegangan geopolitik dan meningkatnya risiko pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh The Fed tetap menjadi pendorong yang jauh lebih kuat bagi keperkasaan dolar.
Rencana Perdagangan Harian untuk EUR/USD
Pasar bersiap untuk melihat lebih jauh dari sekadar angka utama dalam laporan inflasi bulan Juni. Meskipun inflasi tahunan diperkirakan akan melandai, akselerasi pada data CPI inti bulanan dapat mendorong pasangan EUR/USD turun menuju target 1.130. Sebaliknya, jika angka inflasi dirilis lebih rendah dari perkiraan, hal tersebut akan membuka peluang untuk melakukan pembelian euro di dekat batas bawah dari rentang konsolidasi 1.137–1.147.
Perkiraan ini didasarkan pada analisis faktor-faktor fundamental, termasuk pernyataan resmi dari lembaga keuangan dan regulator, berbagai perkembangan geopolitik dan ekonomi, serta data statistik. Data riwayat pasar juga turut dipertimbangkan.
Grafik harga EURUSD dalam mode real time

Konten artikel ini mencerminkan pendapat penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi broker LiteFinance. Materi yang dipublikasikan di halaman ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai penyediaan saran investasi untuk tujuan Arahan 2014/65/UE.
Menurut undang-undang hak cipta, artikel ini dianggap sebagai kekayaan intelektual, yang mencakup larangan menyalin dan mendistribusikannya tanpa izin.




























































































































































































































































































































































